Sabtu, 11 Januari 2014

Budaya Jawa dengan Sifatnya

Mengenal sepintas tentang orang jawa,melalui ajaran dan filsafat para pujangga....yang menguraikan tentang hidup dan kehidupan budaya manusia, yang berkembang baik sosialnya maupun ekonominya. Khususnya pujangga yang sudah berjuluk Mpu atau kawitana/kawiraja..yang hidupnya benar benar dicurahkan untuk ilmu  filsafat,budaya sastra yg dalam dan mumpuni.

    Dalam mengulas dan memberikan gambaran(patuladan) yg menurut budaya jawa semuanya harus dituangkan dalam Sasmito(teka teki,bukan +silang hehe)..Artinya segala petuah tidak boleh ditujukan/di sampaikan Secara Blakasuta  atau apa adanya. Jadi pakai pralambang baik melalui Bahasa, Gambar gerak gerik yang diperagakan secara samar/semu. Hal itu Besar kemungkinan  untuk menghubungkan Bahasa Alam  (suara Alam)  yg bisu, diam, tidak ada tulisan namun bisa terbaca serta penuh makna.....Yang Di ejawantahkan ke dalam bahasa manusia yang selanjudnya sebagai pedoman bersikap........Untuk itu  ajaran kejawaan tdk bisa langsung dicerna,namun harus di urai secara bener lan pener (pratitis). Bener=pas/sesuai serta  Pener=Bijaksana.

     Kajian KeJawaan dalam perspektif hubungan  antara manusia dan Alam  dituangkan dlm beberapa konsep Misal: Selamatan,Rilo legowo, sepi ing pamrih dll.begitu pula tentang konsep pembuktian adanya YME dg "Sangkan Paraning Dumadi".Untuk urusan toleransi manusia jawa mengacu pada Gambaran karakter di pewayangan(wayang purwa),dimana Kasta tetap mengakar meskipun pengaruh berkembang dari Jaman ke jaman.Oleh karena itu Moral Orang Jawa begitu samar dipahami karena Parameternya tergantung Konteksnya,dan itu dicerminkan oleh sikap "Ajur Ajer koyo Banyu" dimana air berada Selalu begitu pula bentuknya.Namun tetap teguh prinsipnya.

        Untuk memahami watak orang jawa tidak bisa dengan Prefensi budaya lain,karena watak orang jawa unik dan bersifat relatif untuk menuju moral yangPluralis.Tapi budaya jawa juga menekan kan pada sesuatu yang berlebihan,jika mempunyai perbuatan yang kelewat batas maka akan diingatkan dg unen unen/istilah "Ngono yo ngono ning ojo ngono".Itulah ungkapan Orang jawa tentang kelayakan dalam berhubungan dg dunia sosial dan ALAM lingkungannya(bebrayan).  Wasalam......!
        

Jumat, 10 Januari 2014

Tingkatan Laku dalam Serat Arjunasasrabahu

Di jelaskan secara sederhana dan ringkas makna pada setiap laku dalam Serat Arjunasasrabahu :

  1. NGANGKAH, artinya Niat/Berniat adl: Awal dari proses laku,niat bagaikan benih kesadaran  yg ditanam dalam hati,yg nantinya akan tumbuh subur apabila diSiram,Pupuk dan dirawat dengan baik serta dijaga secara terus menerus..Yang nantinya akan menghasilkan Buah/Hasil.
  2. NGUKUT,Artinya mempersiapkan dan berbenah  diri untuk melakukan Latihan secara terus menerus...Benih  unggul yang telah ditanam harus terbebas dari hama.disini dituntut untuk waspada dan tegas terhadap gerak gerik apa saja yang sekiranya mau merusak terhadap proses tumbuhnya benih tsb dan memulai proses pertumbuhanya pada kondisi jasmaninya yang tenang dan Rohaninya yang Khusuk....Bentuk gangguan hama tsb di gambarkan secara gamblang  dalam tokoh Jambumangli yg benar benar dalam sikap siap untuk berlatih.Duduk bersila badan rilaks Fikiran serta perasaanya terpusat pada Yang Maha Kuasa.Dan dalam berserah itu siap menerima getaran naluriah yang harmonis.Mulai dari ubun ubun kepala sampai ujung jari.
  3. HENENG, Artinya berhentinya gerakan anggauta tubuh setelah mengalami getaran yang luar biasa.Dan secara alami akan melambat sendiri sampai akhirnya berhenti.yang pada puncaknya akan benar benar tidak berkutik.lerem
  4. HENING, Artinya tenang,sunyi dan benar benar senyap.Dalam keadaan hening ini seluruh panca indra benar benar tumpul alias tidak berfugsi,Nafsu mengendap pikiran serta perasaan akan layu,setiap tarikan dan hembusan nafas berjalan secara kodrati teratur.
  5. AWAS,yang dimaksud awas disini adl dari secara batiniah,meskipun yang dilatih berawal dari fisik atau pancainderanya.seperti mata dan telapak tangan sebagai indra peraba untuk peka terhadap getaran getaran bersifat gaib/Samar
  6. ELING,Mengandung makna selalu sadar,sadar adanya Sang Maha Segalanya,Tuhan Yang Maha Esa atau Allah Swt.Dan merasa bahwa makhluk itu tdk punya daya upaya segalanya adalah milik Yang Maha.inilah sepintas gambaran tersebut dan ringkasnya dg" Zikir"-"Hakikat"-"Makrifat".Sarana untuk menuju kesempernaan hidup.